Tiada yang Abadi

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan. QS. 29:57

10. Hermann Goering

Hermann Wilhelm Göring (lahir di Rosenheim, Kerajaan Bavaria, Kekaisaran Jerman, 12 Januari 1893 – meninggal di Nuremberg, Jerman, 15 Oktober 1946 pada umur 53 tahun), adalah seorang Reichmarchall sekaligus pemimpin Gestapo, polisi rahasia Nazi. Ia dianggap sebagai salah satu pencetus penyerangan terhadap Inggris dalam peristiwa yang dikenal dengan Pertempuran Britania. Ia juga dikenal sebagai pemimpin Nazi tertinggi yang ikut melegitimasi solusi terakhir atas masalah Yahudi, sebuah rencana pemusnahan massal bagi kaum Yahudi yang saat itu dicap sebagai pengacau dan pembangkrut ekonomi dunia.

Goring tercatat sebagai satu-satunya petinggi Nazi pemilik medali Grand Cross of the Iron Cross, yang disematkan sendiri oleh Hitler atas kecemerlangannya memimpin pendudukan ke Perancis dan negara-negara sekitarnya. Ia juga dipercaya membentuk pasukan khusus yang dinamai Divisi Hermann Göring. Dan menjadi komandan Forschungsamt (FA), pasukan intelijen yang bertugas mengawasi dan menyadap lalu lalang informasi melalui telepon dan gelombang radio. Posisinya yang paling krusial adalah ketika ia diangkat sebagai komandan Gestapo, polisi rahasia Nazi yang terkenal kejam. Goring dikenal sebagai komandan Gestapo yang paling sukses yang berhasil membawa Gestapo menjadi polisi politik bagi Nazi.

Namun demikian, sebuah peristiwa tiba-tiba membuat Hitler mencabut semua kepercayaan itu dan berubah menjadi amat membencinya. Ia dianggap sebagai pengkhianat dan diusir dari segala urusan partai Nazi. Peristiwa itu adalah ketika ia bersama-sama Heinrich Himmler, pada saat-saat terakhir perang, bernegosiasi dengan musuh tanpa sepengetahuan Hitler.

Goring ditangkap pasukan Sekutu di Austria pada 8 Mei 1945 dan merupakan seorang pemimpin tertinggi Nazi yang tertangkap dan sempat diadili di pengadilan perang di Nuremberg. Namun beberapa jam sebelum vonis mati dijatuhkan, ia keburu menenggak sebuah pil sianida di dalam selnya. Jenazahnya dikremasi dan abunya dilarung di sungai Isar.

Baca lebih lanjut